Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

KHUTBAH RAYA IDUL ADHA 1447 H

 

TIGA PILAR PENGORBANAN KELUARGA NABI IBRAHIM: PETA JALAN KESUKSESAN PENUNTUT ILMU DI AKHIR ZAMAN

Khatib: M. Kamil Alhakimi, M.H.

Rabu, 10 Dzulhijjah 1447 H / 27 Mei 2026

Masjid Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Haji Nur Abdullah

 

KHUTBAH PERTAMA

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×)

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كثيرا وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.

 اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ. وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ.

اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Kaum Muslimin wal Muslimat yang dirahmati Allah, jamaah hari raya Idul Adha yang berbahagia.

Pagi ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil bersahut-sahutan membelah angkasa, menggetarkan dinding-dinding rumah Allah. Pisau-pisau tajam telah disiapkan, hewan-hewan kurban telah ditambatkan, menanti saat untuk disembelih. Namun, di pagi yang fitrah ini, mari kita sejenak menundukkan kepala, mengosongkan hati dari keangkuhan dunia, dan bertanya kepada jiwa kita masing-masing:

Apakah hanya leher hewan-hewan itu yang harus tumbang hari ini? Ketahuilah, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah butuh pada darah yang mengalir, tidak pula pada daging yang dibagikan. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.”

Yang Allah Swt tuntut hari ini adalah keberanian kita untuk menghujamkan pisau keadilan ke dalam dada kita sendiri; menyembelih keangkuhan yang selama ini membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain, menyembelih kemalasan yang sering kali melalaikan kita dari kewajiban beribadah dan menuntut ilmu, serta menyembelih ego, sifat keras kepala, dan nafsu membangkang yang bersemayam dalam jiwa kita.

Di tengah derasnya fitnah akhir zaman—di mana maksiat begitu manis dan mudah diakses hanya dalam satu kedipan mata lewat layar genggam—dunia sedang krisis keteladanan. Maka pagi ini, mari kita berjalan mundur ribuan tahun lalu, menelusuri padang pasir tandus yang gersang di Makkah, untuk menemukan kembali peta jalan keselamatan hidup dari sebuah keluarga agung: Keluarga Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Dari madrasah kehidupan mereka, terdapat tiga pilar utama yang harus diresapi, wabil khusus bagi para penuntut ilmu yang sedang mengemban amanah suci menghafal kalam-kalam Allah di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Haji Nur Abdullah ini:

·         Pilar Pertama: Kepatuhan Tanpa Syarat dan Bakti yang Sempurna (Kisah Nabi Ismail as.)

  • Dilema Seorang Ayah: Bayangkan sebuah pemandangan yang menggetarkan arsy. Seorang ayah yang telah menanti buah hati selama puluhan tahun hingga rambutnya memutih dan tulangnya melemah, tiba-tiba diperintahkan untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Nabi Ibrahim as tidak berhadapan dengan musuh, melainkan dengan anak yang menjadi belahan jiwanya.
  • Keteguhan Sang Anak: Al-Qur'an merekam dialog paling mengharukan sepanjang sejarah umat manusia dalam Surah As-Shaffat ayat 102. Sang ayah berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Perhatikan jawaban Nabi Ismail as, sebuah jawaban yang lahir dari kesucian jiwa dan tarbiyah yang luhur:
    يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
    “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
  • Pelajaran Ketundukan: Apakah Nabi Ismail membangkang saat mendengar perintah yang mengancam nyawanya itu? Tidak. Apakah beliau berdebat atau sekadar mempertanyakan alasan di balik perintah tersebut? Bertanya pun tidak! Beliau langsung patuh, menundukkan egonya, dan tunduk mutlak pada ketetapan Allah serta permintaan orang tuanya. Begitupun hendaknya sikap kita; para penuntut ilmu wajib meniru ketundukan ini kepada orang tua, kepada para dewan guru, dan terhadap kedisiplinan aturan pesantren. Aturan dan disiplin bukanlah pengekangan, melainkan wujud kasih sayang yang membentengi diri agar tidak hancur lebur diterjang badai kebebasan zaman.
  • Kunci Keberkahan Ilmu: Ketaatan Ismail as adalah tamparan keras bagi kehidupan modern hari ini. Betapa banyak anak yang berani menatap tajam mata ibunya dengan penuh amarah? Demi Allah! Ayat-ayat suci Al-Qur'an tidak akan pernah mau menetap di dalam dada seorang anak yang durhaka. Ilmu yang luas tidak akan pernah membawa berkah jika didapatkan dengan cara merendahkan orang tua dan guru. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan kedua orang tua.” (HR. At-Tirmidzi).

·         Pilar Kedua: Ketangguhan Belajar adalah Lari Sa’i di Padang Pasir (Kisah Siti Hajar)

  • Ikhtiar Nyata: Mari kita menatap sudut lain dari Makkah. Seorang ibu bernama Siti Hajar, ditinggalkan sendirian bersama bayinya yang masih menyusu di sebuah lembah mati yang tidak berpenghuni. Ketika bayinya menangis histeris karena kehausan, Siti Hajar tidak duduk meratap. Beliau bangkit berlari mendaki bukit Shafa, turun lagi, lalu mendaki bukit Marwa. Berulang-ulang, naik dan turun, sebanyak tujuh kali demi sebuah ikhtiar.
  • Kejutan Tak Terduga: Dan di manakah mukjizat air Zamzam itu keluar? Bukan dari atas bukit tempat Hajar lelah mencari, melainkan memancar dari bawah hentakan tumit kecil Ismail. Inilah hakikat ikhtiar! Allah akan mendatangkan keajaiban dari arah yang tidak disangka-sangka, syaratnya: kita harus terus berusaha sekuat tenaga terlebih dahulu (Sa'i).
  • Amanah Para Penuntut Ilmu: Duduk berjam-jam mengulang satu ayat, menahan kantuk di sepertiga malam; itu semua adalah "Sa'i" dalam menuntut ilmu. Boleh jadi, seorang anak merasa sangat kesulitan menghafal, namun ia tetap teguh bersabar. Lalu dari mana balasan Allah memancar? Keberkahan itu justru muncul di kampung halamannya; Allah meluaskan rezeki orang tuanya, Allah mudahkan segala urusan keluarganya, dan Allah hindarkan rumahnya dari musibah, berkat keteguhan seorang anak di majelis ilmu.
  • Wasiat Ulama: Simaklah penegasan Imam Asy-Syafi'i dalam kitab Diwan Al-Syafi'i mengenai syarat mutlak meraih kesuksesan ilmu:

 أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ ... سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ ... وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانِ

“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara: Kecerdasan, semangat yang tinggi, kesungguhan (kerja keras), bekal yang cukup, bimbingan seorang guru, dan waktu yang panjang.”

  • Seorang guru pernah memberikan nasihat emas: Seandainya ada sebuah ayat atau bagian surah yang terasa sangat sulit dihafal atau susah dimengerti, ketahuilah bahwa itu adalah pertanda Allah sedang ingin memperlihatkan sebuah hikmah besar kepadamu. Cari tafsirannya, gali maknanya, dan resapi pesannya! Bisa jadi, materi pelajaran yang paling sulit dipahami hari ini, justru setelah diperjuangkan dengan istiqamah, dialah yang kelak akan paling kuat melekat di ingatan tanpa pernah terlupa. Hasilnya akan datang tanpa disangka-sangka, persis seperti Ibunda Hajar yang mencari air Zamzam.

·         Pilar Ketiga: Mengorbankan Dunia untuk Membeli Akhirat (Kisah Nabi Ibrahim as.)

  • Puncak Pengorbanan: Nabi Ibrahim as diuji untuk menyembelih hal yang paling dicintainya. Jika sebuah benda yang sangat kita cintai diminta secara cuma-cuma oleh orang lain, hati kita pasti menolak. Namun, jika yang memintanya adalah Dzat yang paling berkuasa, yang senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya, maka apapun akan dikorbankan.
  • Nasihat untuk Berjuang dan Berkorban: Kesuksesan Islam hari ini tegak di atas pengorbanan berdarah para ulama. Lantas, apa yang bisa dikorbankan hari ini? Mari kita berjuang melalui jalan masing-masing dengan menjaga keikhlasan yang utuh:
  1. Bagi Para Penuntut Ilmu: Korbankanlah kenyamanan masa muda, asyiknya bermain, dan waktu istirahat demi disiplin menghafal. Ketahuilah, sejarah telah mencatat bahwa ulama besar tidak pernah terlahir dari atas kasur yang empuk. Ilmu dan kemuliaan hanya bisa ditebus dengan mata yang terjaga di sepertiga malam, tubuh yang lelah bermutala'ah, dan kesabaran menahan kantuk di atas lantai masjid. Pengorbanan kenyamanan fisik inilah yang kelak akan melahirkan ketajaman mata batin dan ingatan yang kuat.
  2. Bagi Para Dewan Guru: Berjuanglah dengan jalan mendidik. Mengorbankan waktu istirahat, mutala'ah di malam hari, mencari metode terbaik, serta menahan emosi menghadapi tingkah laku santri. Hati-hati dengan bisikan setan yang meniupkan rasa riya' atau keluh kesah. Ikhlaskan niat mengajar semata-mata mengharap wajah Allah.
  3. Bagi Para Orang Tua: Berjuanglah dengan keikhlasan melepas anak-anak menuntut ilmu. Tahan rindu di dada. Jangan tergoda oleh bisikan setan yang membuat hati ragu. Yakinlah bahwa berpisah sementara di dunia ini adalah ikhtiar untuk berkumpul abadi di surga-Nya kelak.
  4. Bagi Pengurus Yayasan dan Jamaah Sekalian: Berjuanglah dengan harta benda. Mendukung operasional pondok dan membiayai para penghafal Al-Qur'an adalah amal jariyah. Hati-hati, setan senantiasa membisikkan sifat kikir. Harta yang disimpan rapat-rapat hanya akan jadi rebutan ahli waris, namun harta yang diinfakkan murni karena Allah akan setia menemani menjadi pelita saat kita sendirian di alam kubur.

Kaum Muslimin wal Muslimat yang dirahmati Allah,

Di mimbar Idul Adha ini, mari kita luruskan kembali niat kita. Contohlah keagungan adab Imam Asy-Syafi'i yang tertulis dalam Manaqib Asy-Syafi'i karya Imam Al-Baihaqi, di mana beliau berkata: "Aku membuka lembaran kertas di depan guruku Imam Malik dengan sangat pelan karena rasa segan dan hormatku, agar beliau tidak terganggu oleh suara gesekan kertas tersebut." Jadikan diri kita layaknya Ibrahim yang rela berkorban, jadikan keikhlasan kita seperti Hajar yang tak kenal lelah berjuang, dan bentuklah jiwa generasi muda kita sedisiplin Ismail yang patuh pada Rabbnya, berbakti pada orang tuanya, dan takzim kepada guru-gurunya. Sukses dunia akhirat sedang menanti di ujung jalan pengorbanan ini.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.

وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنْ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

 

Hadirin Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah. Di saat yang penuh dengan kesakralan dan mustajabnya doa ini, mari kita sejenak merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah Yang Maha Rahman. Singkirkan segala keangkuhan jabatan, singkirkan kesombongan ilmu dan harta. Angkat kedua tangan kita, basahi hati kita dengan penyesalan taubat, dan aminkan doa ini dengan lisan yang bergetar:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

Ya Allah, Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ampunilah dosa-dosa kami. Ampunilah dosa kedua orang tua kami; bapak dan ibu kami. Ya Allah, titipkanlah ganjaran rahmat-Mu yang tak terbatas untuk ayah dan ibu kami yang telah memeras keringat, menahan lapar, mengorbankan harta, dan menumpahkan air mata demi mengantarkan anak-anak mereka ke majelis ilmu-Mu ini. Jika mereka masih hidup, panjangkan umurnya dalam ketaatan, mudahkan urusannya. Jika mereka telah tiada, lapangkanlah kuburnya, jadikanlah ia sebagai taman dari taman-taman surga-Mu.

Ya Allah, perbaikilah generasi muda kami, jadikanlah mereka generasi rabbani yang tangguh menghadapi tantangan zaman. Selamatkanlah anak-anak kami dari fitnah akhir zaman, dari jeratan maksiat, pergaulan bebas, dan rusaknya moral. Ya Allah, tancapkanlah ayat-ayat suci Al-Qur'an di dalam dada-dada mereka. Jadikan hafalan mereka kuat terjaga, dan jadikanlah hafalan tersebut sebagai mahkota cahaya yang kelak akan mereka pakaikan di atas kepala ayah dan ibunya di hari kiamat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu yang melimpah untuk Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Haji Nur Abdullah ini. Jadikanlah pesantren ini sebagai mercusuar ilmu yang murni, yang melahirkan para ulama penyejuk umat. Karuniakanlah kesehatan, kesabaran yang luas, dan keikhlasan yang kokoh kepada pimpinan pondok kami, jajaran yayasan, serta seluruh dewan asatidz wal asatidzah yang telah mengorbankan waktu dan jiwanya untuk mendidik anak-anak kami.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Ya Allah, jauhkanlah negeri kami dan lembaga kami ini dari segala bala bencana, musibah, kesesatan, perpecahan, dan fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 

Berbagi

Posting Komentar