Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Diuji Langsung Ustadz Miftahul Huda, Santri PPTQ Haji Nur Abdullah Pukau Hadirin Lewat Kemampuan Baca Kitab Gundul Metode Al-Miftah

 

AGAM — Acara Haflah Takharruj dan Tasyakuran Tahfizh Pondok Pesantren Tahfizhul Quran (PPTQ) Haji Nur Abdullah pada Ahad (26/04/2026) tidak hanya menjadi panggung kebanggaan bagi para penghafal Al-Qur'an, tetapi juga panggung unjuk gigi secara intelektual. Ratusan tamu undangan dibuat takjub oleh demonstrasi penguasaan tata bahasa Arab dan kemampuan santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) serta Madrasah Aliyah (MA) Kata Hati dalam membaca kitab tanpa harakat (kitab kuning). Kemahiran ini merupakan hasil gemilang dari penerapan metode Al-Miftah Lil Ulum Sidogiri di lingkungan madrasah.

Penampilan memukau ini dibuka dengan lantunan nadhom bernada ceria yang dibawakan secara serentak dan penuh semangat oleh para santri yang berbaris rapi di atas panggung. Melalui lagu yang rancak tersebut, mereka dengan fasih melantunkan kaidah-kaidah rumit tata bahasa Arab, mulai dari definisi dan pembagian kalimat isim, kalimat fi'il, hingga mengenali tanda-tanda i'rab. Pendekatan pembelajaran yang menyenangkan ini terbukti sangat efektif dalam menanamkan pemahaman Nahwu dan Shorof kepada santri sejak usia belia.

Kekaguman audiens semakin memuncak ketika Ustadz Miftahul Huda turun tangan memandu acara sekaligus bertindak sebagai penguji utama dalam sesi uji publik tersebut. Pada sesi pertama, beliau menantang para santri tingkat MTs yang terdiri dari Raja, Nurul, Uci, Alamsyah, Luqman, Rasyid, dan Fadilah. Ustadz Miftahul Huda memberikan pertanyaan acak kepada masing-masing santri untuk menganalisis kedudukan kalimat (I'rab) dari teks bahasa Arab murni yang ditampilkan tanpa satupun baris atau harakat.

 

Di luar dugaan, para santri tingkat MTs yang notabene baru saja lulus dari Sekolah Dasar (SD) ini mampu merespons pertanyaan sang ustadz dengan lantang, cepat, dan sangat akurat. Mereka dengan presisi membedah satu per satu kedudukan kata, menjelaskan alasan sebuah kata menjadi mubtada, khabar, hingga menguraikan tanda-tanda isim secara terperinci. Fakta yang paling membuat hadirin bertepuk tangan riuh adalah ketika Ustadz Miftahul Huda menegaskan bahwa anak-anak ini baru mempelajari metode Al-Miftah selama satu tahun di pondok namun sudah mampu menguasai materi seberat itu.

Tak mau kalah dengan ketajaman analisis adik-adiknya, para santri dari tingkat Madrasah Aliyah (MA) kemudian mengambil alih panggung untuk mendemonstrasikan kemahiran di tingkat yang lebih advance. Diwakili oleh jajaran santri berprestasi yakni Nizam, Ayub, Indah, dan Fatimah, mereka menerima tantangan dari Ustadz Miftahul Huda untuk membaca langsung dari Kitab Fathul Qarib, spesifik pada pembahasan Bab Haji.

Standar ujian untuk tingkat Aliyah ini jauh lebih tinggi. Mereka diinstruksikan oleh Ustadz Miftahul Huda untuk meng-i'rab kalimat tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia, melainkan menggunakan pengantar bahasa Arab sepenuhnya. Luar biasanya, Nizam dan kawan-kawan mampu menjawab tantangan tersebut dengan lancar, bahkan secara spontan mampu menyitir bait-bait dari Kitab Alfiyah Ibnu Malik sebagai dalil penguat atas jawaban tata bahasa mereka. Sesi ini ditutup dengan sempurna oleh santriwati bernama Fatimah yang membacakan serta menerjemahkan teks Kitab Fathul Qarib tersebut secara utuh kepada hadirin.

Keberhasilan demonstrasi metode Al-Miftah ini mengirimkan pesan akademis yang sangat kuat kepada masyarakat luas. MTs dan MA Kata Hati di bawah naungan PPTQ Haji Nur Abdullah membuktikan diri bahwa mereka bukan sekadar institusi pencetak penghafal Al-Qur'an, melainkan juga lembaga yang sukses membekali generasi mudanya dengan "kunci emas" untuk membedah literatur Islam klasik (turats). Kemampuan membaca kitab kuning ini menjadi bekal fundamental bagi para santri agar kelak tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu fiqih dan syariat saat terjun mengabdi di tengah-tengah umat.

Berbagi

Posting Komentar