Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Derai Air Mata Warnai Haflah PPTQ Haji Nur Abdullah, Ustadz Marva: AI Tak Bisa Bangunkan Anak Salat Tahajud

 


Puncak acara Haflah santri MTs dan MA Kata Hati PPTQ Haji Nur Abdullah pada Ahad (26/04/2026) diwarnai oleh derai air mata para wali santri dan tamu undangan. Momen emosional itu pecah saat prosesi penyematan "Mahkota Cahaya", sebuah simbol persembahan tertinggi dari para santri penghafal Al-Qur'an untuk kedua orang tua mereka. Di bawah panduan suara Ustadz Marva Edison yang menyentuh hati, para santri memeluk erat orang tua mereka, mencium tangan yang mulai menua, dan memohon ampun atas segala khilaf yang pernah diperbuat.

Prosesi mahkota ini menjadi representasi visual dari pembinaan batin yang selama ini ditanamkan di pesantren. Dalam orasi ilmiahnya, Ustadz Marva Edison menggarisbawahi tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Beliau menegaskan bahwa sehebat apa pun teknologi mentransfer ilmu pengetahuan, AI tidak akan pernah memiliki sentuhan batin untuk membangunkan seorang anak pada jam tiga pagi demi menunaikan salat Tahajud, sebuah peran yang secara konsisten diambil alih oleh pesantren.

Pendidikan kedisiplinan yang ketat, menurut Ustadz Marva, adalah mutlak diperlukan pada rentang usia 7 hingga 14 tahun. Meski terkadang kebijakan pondok seperti menyiram santri agar bangun Subuh kerap memicu kesalahpahaman, buah manis dari ketegasan tersebut terbukti seiring berjalannya waktu. Beliau menceritakan kisah inspiratif seorang alumni yang dahulu kerap memberontak, namun kini bersyukur karena kebiasaan bangun sebelum fajar mengantarkannya menjadi imam salat di tengah masyarakat.

Komitmen pembinaan akhlak ini sejalan dengan apresiasi yang disampaikan oleh perwakilan wali murid dalam sambutannya. Ia memuji pendekatan PPTQ Haji Nur Abdullah yang menempatkan adab di atas segalanya, di tengah ancaman krisis moral anak-anak zaman sekarang di luar sana. Wali murid tersebut berpesan kepada para lulusan bahwa setelah keluar dari gerbang pesantren, mereka sendirilah yang harus menjadi pengawas mandiri bagi hawa nafsu dan tindak-tanduk mereka.

Keberhasilan pesantren dalam menanamkan nilai moral juga diakui oleh Wali Nagari Kotobaru, Bapak Zuhdi, S.Sos. Secara khusus, ia menyoroti kontribusi sosial nyata para santri di lingkungan sekitar, salah satunya kebiasaan sigap turun berjemaah menyalatkan jenazah apabila ada warga yang meninggal dunia. Menurutnya, ilmu dan ketakwaan semacam inilah yang mengangkat derajat manusia, dan hilangnya etika justru bisa menjatuhkan martabat manusia di bawah iblis.

Menepis anggapan negatif mengenai hafalan di rumah, Ustadz Marva juga mengklarifikasi kebijakan pondok yang kerap meminta bukti video tadarus saat liburan. Beliau menekankan bahwa hal tersebut sama sekali bukan bertujuan untuk riya, melainkan satu-satunya metode bagi pesantren untuk tetap memantau dan memelihara kebiasaan ibadah santri ketika mereka berada di luar jangkauan langsung para ustaz. Ini adalah wujud tanggung jawab moral pesantren yang tak terputus.

Haflah ini pada akhirnya menjadi sebuah ruang refleksi bersama. Bahwa lembaga pendidikan, khususnya PPTQ Haji Nur Abdullah, tidak pernah mendesain santrinya menjadi robot penghafal teori. Melalui tempaan disiplin, teguran keras yang mendidik, serta penanaman adab yang mendalam, pesantren terus berupaya membentengi jiwa generasi muda dari gerusan zaman yang semakin kehilangan arah.

Berbagi

Posting Komentar