Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Menjemput Keajaiban dengan "Ilmu Attract (Menarik)": Refleksi Mendalam Peringatan Isra’ Mi’raj di PPTQ Haji Nur Abdullah


Baso, Agam – Jumat pagi itu, 16 Januari 2026, langit di atas Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an (PPTQ) Haji Nur Abdullah tampak cerah. Namun, kecerahan yang sesungguhnya justru terpancar dari wajah ratusan santri yang memadati masjid utama. Tidak seperti peringatan hari besar biasa, acara Isra’ Mi’raj 1447 H kali ini terasa berbeda. Mengusung tema "Menembus Batas Nalar Demi Menemukan Cahaya Kesempurnaan," acara ini bukan sekadar napak tilas sejarah, melainkan sebuah perjalanan ke dalam diri (inward journey) yang mengguncang jiwa.

Hadir sebagai pemateri utama, Ustadz Zaenal Muttaqin atau akrab disapa Aa Zein, seorang National Trainer yang juga pengasuh pesantren, membawa perspektif baru yang menyentak kesadaran: bahwa hidup—seperti halnya perjalanan Isra Mi'raj—adalah tentang kualitas batin, bukan sekadar kerja keras fisik yang melelahkan.

Fondasi Kemenangan: Damai dan Rendah Hati

Sebelum menyelami materi inti, Pimpinan Pondok, Ustadz Marva Edison, S.Ag., Gr., membuka cakrawala berpikir para santri lewat sambutannya. Beliau menekankan bahwa Isra’ Mi’raj adalah simbol "perjalanan penuh kemenangan" yang membawa damai.

"Rasulullah mengajarkan kita bahwa kemenangan Islam bukanlah tentang menaklukkan dengan pedang, melainkan dengan hati," ujar Ustadz Marva dengan suara tegas namun lembut. Beliau mengingatkan tentang peristiwa Fathu Makkah, di mana Rasulullah datang membawa jaminan keselamatan, bukan dendam.

"Kemenangan tidak boleh melahirkan kesombongan. Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfir. Bertasbihlah dan mohon ampun. Jangan sampai ibadah kita hebat, tapi menyakitkan orang lain. Itu bukan kemenangan, itu malapetaka," tambahnya.

Sebagai bekal santri, Ustadz Marva mengutip Imam Al-Ghazali tentang tiga ilmu wajib: Tauhid untuk mengenal Tuhan, Tasawuf (Ilmu Sir) untuk menata keikhlasan hati, dan Syariat untuk menyempurnakan ibadah—di mana shalat adalah oleh-oleh teragung dari perjalanan Isra’ Mi’raj.

Filosofi Kupu-Kupu: Berhenti Mengejar, Mulailah Menarik

Suasana berubah hening ketika Ustadz Zaenal Muttaqin naik ke mimbar. Beliau tidak memulai dengan teori yang rumit, melainkan sebuah analogi sederhana tentang kupu-kupu.

"Selama ini kita hidup dengan konsep chasing atau mengejar. Lelah," buka Aa Zein. "Kita seperti orang yang membawa jaring, berlari kian kemari mengejar kupu-kupu. Dapat satu, tapi capeknya luar biasa. Dan kupu-kupu itu pun seringkali rusak sayapnya."

Beliau kemudian menawarkan konsep "Attract" (Menarik). "Daripada sibuk mengejar, kenapa tidak membangun taman? Tanamlah bunga, rawatlah tanahnya. Ketika taman itu indah dan wangi, kupu-kupu akan datang sendiri. Berbondong-bondong. Berwarna-warni. Tanpa perlu kita kejar."

Analogi ini menohok realitas kehidupan santri dan manusia pada umumnya. Kupu-kupu adalah metafora dari rezeki, keberuntungan, kebahagiaan, dan prestasi. Aa Zein menekankan bahwa tugas santri adalah "membangun taman" dalam diri mereka: memperbaiki sholat, menjaga hafalan, dan membaguskan akhlak.

"Jangan sibuk ingin dilihat orang. Jadilah seperti Empu pembuat pedang sakti. Dia menempa diri di tempat sunyi, jauh dari keramaian. Tapi karena kualitas pedangnya luar biasa, pendekar hebat pun datang berlutut mencarinya," tegasnya.

Vibrasi Hati dan Keajaiban Doa

Materi memasuki fase terdalam ketika pembahasan menyentuh soal Vibrasi (getaran hati). Aa Zein menjelaskan bahwa alam semesta menangkap sinyal perasaan kita. "Kalau dadamu sesak, penuh amarah, dan gelisah, kamu sedang memancarkan sinyal masalah. Maka masalahlah yang akan datang."

Sebaliknya, Positive Feeling (perasaan lapang) adalah kunci pembuka pintu langit. Rabbisrahli sadri—Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku.

Puncaknya terjadi pada sesi simulasi Prayer of Affirmation (Afirmasi Doa). Ratusan santri diajak mempraktikkan cara berdoa yang "menarik" pertolongan Allah. Bukan sekadar komat-kamit lisan, tapi menghadirkan rasa butuh yang amat sangat.

"Hadirkan rasa hina kalian. Mengakulah," bimbing Ustadz Zaenal.

Suasana masjid seketika berubah haru. Isak tangis mulai terdengar ketika para santri diminta mengangkat tangan, menengadahkan wajah, dan memanggil "Ya Allah... Ya Rabb..." sebanyak empat kali dengan segenap kerinduan. Teknik ini, menurut Ustadz Zaenal, adalah cara mengetuk pintu langit hingga Allah 'malu' jika tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya.

Dalam doa bersama itu, ego runtuh. Santri yang mungkin selama ini merasa 'jagoan', luruh dalam pengakuan dosa. Mereka mendoakan orang tua yang jauh di mata, mengakui rasa malas dan ketidakbetahan yang selama ini dipendam, serta memaafkan teman dan guru.

"Energi positif inilah yang akan menarik kemudahan. Kalau hatimu plong, hafalanmu lancar. Kalau hatimu ikhlas, orang tuamu di rumah rezekinya lancar," pesan Ustadz Zaenal menutup sesi muhasabah.

Menatap Masa Depan dengan "Taman" yang Baru

Acara Isra’ Mi’raj di PPTQ Haji Nur Abdullah hari itu bukan sekadar seremonial tahunan. Ia menjadi titik balik. Dari mental "mengejar" dunia dengan kelelahan, menuju mental "menarik" kebaikan dengan kepatuhan dan kebersihan hati.

Saat acara usai dan santri kembali ke asrama, wajah-wajah mereka tampak lebih ringan. Seolah beban tak kasat mata telah terangkat bersama doa-doa yang dilangitkan. Mereka kini paham, untuk menjadi hebat, mereka tidak perlu berteriak pada dunia. Mereka hanya perlu "menanam bunga" dalam sunyi, dan membiarkan Allah mendatangkan "kupu-kupu" kesuksesan tepat pada waktunya.

Berbagi

Posting Komentar